Kisah Kelam Para Korban Pembantaian Kejam PKI di Sumur Cigrok di Magetan Jawa Timur

  • Bagikan
ilustrasi tertawan saat kejidian pemberontakan PKI. Foto Facabook PPDSM.

HARIAN BERKAT – Sebuah kisah kelam kebengisan Partai Komunis Indonesia (PKI) jelas sangat membekas bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak PKI dengan paham komunisnya memaksakan diri ingin merubah Pancasila, dengan menghalalkan berbagai cara, PKI tidak hanya dengan kelicikannya akan tetapi juga melakukan teror-teror penculikan, penyiksaan dan pembunuhan seperti yang terjadi pada pemberontakan di Magetan, Jawa Timur.

Kisah kelam kebengisan PKI itu dapat dibuktikan dengan jejak kebiadaban peninggalan PKI di tahun 1984. Salah satunya adanya monument Cigrok yang terletakdi Desa Cigrok Kecamatan Takeran, Magetan Jawa Timur.

BACA JUGA : Partai PKI Sangat Memusuhi Islam, di Magetan 1948 Kiai Santri Disiksa dan Bunuh Dengan Kejam

Dikatakan kisah kelam, karena di monument itu yang awalnya merupakan sebuah sumur tua dan sengaja di persiapkan PKI untuk mengubur korban-korban yang di bantainya dengan sadis tampa pri kemanusiaan. Mereka yang dibantai dengan sadis oleh PKI adalah mereka-mereka yang tidak sehaluan dan menentang paham komunis. Mereka-mereka itu terdiri dari para kiai, santri, elite birokrasi, anggota TNI/Polri dan organisasi lain yang dianggap bertentangan dengan PKI.

Dikutip dari suaraislam.id, kisah kelam di Desa Cigrok, sebelah selatan Takeran, dibuktikan dengan terdapatnya sumur tua yang digunakan PKI sebagai tempat pembuangan korban-korbannya. Sumur tua Cigrok ini terletak di belakang rumah To Teruno, seorang warga biasa dan bukan anggota PKI.

Justru dialah yang melaporkan kegiatan PKI di sumurnya itu kepada Kepala Desanya. Di dekat rumah To Teruno, tinggal pula Muslim, seorang santri saksi mata kebiadaban PKI saat melakukan pembantaian di sumur tua itu.

BACA JUGA : Sejarah Mencatat 108 Orang Disiksa, Dibunuh dan Dikubur di Sumur Tua Soco oleh Kebiadapan PKI

Muslim bercerita, pada malam terjadinya penjagalan itu, semua orang tak berani keluar rumah. Malam itu, dia mendengar suara bentakan Surat, pimpinan PKI yang berasal dari Desa Petungredjo. Dia juga mendengar suara orang menjerit histeris karena dianiaya. Muslim, yang diam-diam mengintip melalui lubang dari rumahnya, melihat gerak-gerik orang-orang PKI itu dalam keremangan malam.

Muslim dapat mengenali salah satu korban yang mengumandangkan azan dari dalam sumur. Suara itu, menurutnya adalah suara KH Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari.

Sementara itu, Achmad Idris, tokoh Masyumi di Desa Cigrok yang ketika itu sudah ditawan PKI, menyaksikan penjagalan biadab PKI dari kejauhan. Meskipun sayup-sayup, dia sangat mengenal suara azan KH Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu, sebab Idris sering mendengarkan pengajian-pengajian Kiai Imam Sofwan.

  • Bagikan