Ranah Rantau dan Pentingnya Organisasi Minang

  • Bagikan
Foto: Ilustrasi rumah adat Minang/Pixabay

HARIAN BERKAT – Ranah dan rantau akhir-akhir ini semakin populer dalam masyarakat Sumatera Barat, baik di kampung halaman maupun di perantauan. Hal ini semakin menarik untuk dibicarakan karena Pemerintah Provinsi dan kabupaten-kabupaten yang ada di Sumatera Barat memasukannya dalam program kerja dan dicantumkan dalam system organisari pemerintahan daerah.

Menurut KBBI, ranah itu dikenal sebagai petunjuk untuk Alam Minangkabau. Ranah adalah sebutan atau istilah untuk menyebut wilayah yang didiami oleh etnis Minang. Lebih jelasnya, kata-kata Ranah bagi orang Minangkabau lebih merujuk kepada wilayah kampung halaman orang Minangkabau itu sendiri, yaitu lebih kurang sama dengan wilayah Provinsi Sumatera Barat sekarang.

Baca Juga: HR Rasuna Said, Sosok Muslimah Asal Minang yang Jadi Pahlawan Nasional

Menurut Tanbo, di dalam Ranah Minang itu ada yang disebut dengan luhak nan tigo, yaitu Luhak Tanah Data, Luhak Limo Puluah, dan Luhak Agam. Luhak Tanah Data disebut sebagai Luhak Nan Tuo, karena dari situlah asal nenek moyang orang Minangkabau.

“Dari puncak Gunuang Merapi, turun ka nagari banamo Pariangan, Gunuang sagadang taluah itiek, nagari salaweh tapak kudo, kambang manjadi luhak nan tigo, malingkup manjadi Ranah Alam Minangkabau”.
Sepertinya sudah menjadi pasangan bahwa adanya “ranah” itu karena ada “rantau” sehiingga antara ranah dan rantau merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Berikut akan dibicarakan mengenai rantau.

Dalam konsep budaya Minangkabau, rantau dapat juga diartikan “kawasan yang diteroka dan berada di luar kawasan darek” (Lihat KBBI). Namun, saat ini kata “rantau” digunakan untuk pengertian lokasi tempat tinggal orang Minangkabau di luar wilayah Sumatera Barat.

Baca Juga: Mars Bundo Kanduang IKM, Persembahan DPW IKM Kalbar untuk Seluruh Warga Minangkabau

Tersebutlah dalam budaya beberapa lokasi, yaitu Rantau Pekanbaru, Jambi, Medan, Bengkulu, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Philipina, sekarang sudah sampai di Australia, Asia, Afrika, Eropah dan Amerika. Bahkan perantau-perantau Minang tersebut pernah menjadi Pemimpin tertinggi di beberapa negara tersebut.

Menurut Mochtar Naim (1984) dalam bukunya “Merantau, pola migrasi suku Minangkabau” faktor utama yang menyebabkan orang Minangkabau itu adalah faktor budaya. Hal ini tergambar dari pepatah berikut:

“Karatau madang di hulu babuah babungo balun
Karantau bujang dahulu di rumah paguno balun”

Belum lah lengkap hidupnya seorang laki-laki di Minangkabau sebelum mereka pergi merantau. Maka sementara laki-laki itu belum berguna di kampung halaman, sebaiknya lah mereka itu pergi ke rantau. Merantau dengan tujuan menimba ilmu, mencari pengalaman, dan mencari kehidupan.

Secara tradisional kampung halaman juga mempersiapkan setiap laki-laki yang akan pergi merantau dengan berbagai keperluan. Sejak kecil diajari mengaji, bersilat, bertani, berdagang, dan sebagainya. Supaya setelah sampai di rantau nanti tidak menganggur dan tidak terlantar.

Baca Juga: Berikut Deretan Makanan Khas Minang yang Sarat dengan Nilai Islam

Dengan bekal keterampilan yang ada, mereka bisa mencari hidup. Setelah sampai dirantau pun laki-laki Minang itu diingatkan supaya bisa menjaga diri, sebagaimana pantun berikut:

“Kok bujang pai ka lapau
Hiu bali balanak bali
Ikan panjang bali dahulu
Kok bujang sampai dirantau
Ibu cari dunsanak cari
Induk samang cari dahulu”

Induak semang dalam Bahasa Minangkabau itu adalah orang atau bos yang memberi pekerjaan. Kalau bekerja menjadi pelayan di rumah makan maka pemilik rumah makan itu adalah induk semang, kalau bekerja sebagai pelayan sebuah toko maka pemilik toko iu disebut induk semang, kalau membeli barang dagangan untuk manggaleh maka orang tempat berbelanja itu disebut induk semang. Selanjutnya dinasehatkan oleh pepatah berikut:

“Kok mandi di ilia-ilia
Kok manyauak di bawah-bawah
Bajalan usah malendo
Bakato usah manggadang”

Baca Juga: Berikut Deretan Makanan Khas Minang yang Sarat dengan Nilai Islam

Maksud dari pepatah ditas, supaya diperantauan tidak boleh menyobongkan diri. Agama Islam mengajarkan bahwa manusia itu kecil, tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang maha besar.

Dalam berkata, pandang lah kiri dan kanan, lihat lah ke muka dan ke belakang, jangan sampai ada orang yang tersinggung. Selanjutnya pepatah berikut menjelaskan pula bahwa perantau Minang itu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat.

“Dimaa bumi dipijak, di situ langik dijunjuang
Dimaa sumua dikali, di situ aia disauak
Dimaa nagari diunyi, di situ adat dipakai”.

Diperantauan biasanya urang Minangkabau termasuk urang Tanah Datar hidup memencar, tidak mengumpul. Berbeda dengan suku lain yang cenderung mengumpul dalam bertempat tinggal. Pepatah Jawa mengatakan: “Mangan ora mangan waton ngumpul”(makan atau tidak makan yang penting ngumpul). Bagi orang Minang berlaku sebaliknya: “Ngumpul ora ngumpul waton mangan” (Ngumpul atau tidak ngumpul yang penting dapat makan).

Itu lah sebabnya, dibanyak kota ditemukan nama-nama kampung dari berbagai suku seperti “kampung Jawa, kampung Sunda, kampung Bugis, kampung Banjar, kampung Batak dan kampung Cina”. Sedangkan “Kampung Minang” atau ”Kampung Padang”.

  • Bagikan