Presiden FIFA Kecam Kritikus Barat ‘Munafik’ atas Catatan HAM Qatar

  • Bagikan
Presiden FIFA, Gianni Infantino kecam keras kritikus Barat sebagai 'munafik' soal cacatan HAM Iraq. Gianni Infantino akan menjadi kandidat tunggal dalam pemilihan presiden FIFA saat dia mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiganya. Foto: antaranews/xinhua.

HARIAN BERKAT – Presiden FIFA, yaitu badan sepak bola dunia, Gianni Infantino mengecam “kemunafikan” para kritikus Barat terhadap catatan Hak Asasi Manusia (HAM) Qatar, dan dengan penuh semangat membela penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022.

Menurut Presiden FIFA ini, kekhawatiran atas perlakuan Qatar terhadap pekerja migran, perempuan dan komunitas LGBTQ, hingga gangguan yang terlihat dari penyelenggara, mencuat di kalangan Barat menjelang pesta sepak bola sejagat itu.

Presiden FIFA menjelaskan bahwa pejabat Qatar mengatakan negara mereka telah menjadi sasaran rasisme dan ‘standar ganda’ dan mereka menunjuk pada reformasi pada kondisi kerja dan keselamatan yang telah dipuji sebagai terobosan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Qatar Resmi Larang Penjualan Bir di Dalam Stadion Piala Dunia

Sepak bola itu sendiri kembali mendapat perhatian pada Sabtu, dengan fokus kuat pada politik di luar lapangan hanya 24 jam sebelum pertandingan pembukaan antara tuan rumah Qatar melawan Ekuador.

Presiden FIFA Gianni Infantino, berbicara pada konferensi pers pembukaan turnamen di Doha, Sabtu, 19 November 2022 21:30 WIB sebagaimana diberitakan antaranews.com, Infantino melontarkan kata-kata keras untuk pengkritik terhadap catatan soal hak asasi manusia di Qatar.

Baca Juga: Dilarang di Qatar, Budweiser akan Hadiahi Bir Budweiser untuk Pemenang Piala Dunia

Menuurut Gianni Infntino, Presiden FIFA asal Swiss ini, seperti dikutip AFP, pemberian pelajaran moral ini – sepihak – hanyalah ‘kemunafikan’ para kritikus Barat.

“Saya tidak ingin memberi Anda pelajaran hidup, tetapi apa yang terjadi di sini sangat, sangat tidak adil. Untuk apa yang telah dilakukan orang Eropa selama 3.000 tahun terakhir, kita harus meminta maaf selama 3.000 tahun ke depan sebelum mulai memberikan pelajaran moral kepada orang-orang,” katanya marah.

  • Bagikan