Tanda-tanda Salat Istikharah yang Dijawab Allah

  • Bagikan
Foto: Ilustrasi salat/Pixabay

HARIAN BERKAT – Benarkah tanda salat istikharah dijawab Allah itu dengan hadirnya mimpi? Lalu bagaimana menafsirkannya? Ternyata tidak.

Dalam beberapa kitab fiqih yang membahas salat istikharah, tidak ada satu pun yang membicarakan mimpi atau mengaitkan salat ini dengan mimpi. Buka saja Fiqih Sunnah, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Fiqih Manhaji dan lain-lain juga tidak ada yang mengatakan bahwa tanda jawaban salat istikharah diberikan Allah melalui mimpi.

Baca Juga: Kisah Abu Nawas Melarang Rukuk dan Sujud dalam Salat

Lalu bagaimana jawaban salat istikharah itu? Bukankah salat istikharah dilakukan dalam rangka memohon kepada Allah dipilihkan pilihan terbaik dari dua atau lebih pilihan yang kita hadapi dalam urusan mubah? Entah itu memilih pekerjaan, memilih jodoh atau urusan lainnya.

Tidak seperti persangkaan sebagian orang bahwa jawaban salat istikharah dikirim Allah dalam bentuk mimpi, sesungguhnya hasil istikharah adalah kemantapan hati. Yaitu, hati kita lebih condong ke pilihan mana yang terasa lebih baik untuk kita. Hati kita mantap memilih apa, itulah hasil istikharah kita. Tidak harus berupa mimpi.

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Setelah istikharah, seseorang harus mengerjakan apa yang dirasa baik untuknya. Di samping itu, hendaknya ia benar-benar bebas dari kehendak pribadi. Jadi jangan sampai ada perasaan ini pilihan terbaik, sebelum mengerjakan salat istikharah. Karena jika demikian, sama halnya tidak istikharah atau kurang tawakkal pada pengetahuan dan kekuasaan Allah.”

Baca Juga: Hukum Salat dengan Shaf Campur Lelaki dan Perempuan, Begini Pandangan Ulama

Syaikh Wahbah Az Zuhaili rahimahullah dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menguatkan dengan mengutip riwayat Ibnu Sunni, “Hai Anas, jika engkau menginginkan sesuatu, maka mintalah petunjuk kepada Allah sebanyak tujuh kali. Setelah itu, lihatlah urusanmu mana yang masuk dalam hatimu pertama kali karena di situlah tempat kebaikan.”

Bahkan bisa jadi seseorang yang telah salat istikharah, tidak juga hadir kemantapan hati dalam memilih. Misalnya seseorang yang ragu apakah ia harus memilih bekerja di perusahaan A atau perusahaan B. Ia melamar ke kedua perusahaan itu dan saat mengikuti tes tulis, ia lulus dua-duanya.

Misalnya ada orang istikharah setiap malam tetapi belum juga hatinya mantap memilih perusahaan A atau B. Kedua perusahaan itu memang punya plus minus masing-masing. Perusahaan A gajinya lebih besar, tapi tempatnya lebih jauh. Perusahaan B lebih dekat dari rumah, tapi gajinya lebih kecil.

  • Bagikan