Sejarah Kesultanan Sambas yang Erat Kaitannya dengan Kerajaan Brunai

  • Bagikan
Foto: Istana Alwatzikhoebillah Sambas/Kemendikbud.go.id

HARIAN BERKAT – Sejarah tentang asal usul Kerajaan Sambas tidak bisa terlepas dari Kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat.

Pada jaman dahulu di Negeri Brunei Darussalam, ada seorang raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang ke-9 yaitu Sultan Abdul Djalil Akbar. Beliau mempunyai putra yang bernama Sultan Raja Tengah.

Baca Juga: Kisah Bujang Nadi dan Dare Nandong yang Dikubur di Danau Sebedang

Raja tengah inilah yang kemudian datang ke Kerajaan Tanjungpura (Sukadana). Karena perilaku dan tata kramanya beliau disegani masyarakat, bahkan Raja Tanjungpura rela mengawinkan dengan anaknya bernama Ratu Surya. Dari perkawinan ini lahir Raden Sulaiman.

Pada saat yang sama, di wilayah Sambas memerintah seorang ratu keturunan Majapahit (Hinduisme) bernama Ratu Sepudak dengan pusat pemerintahannya di Kota Lama. Ratu Sepudak dikaruniai dua orang putri. Yang sulung dikawinkan dengan kemenakan Ratu Sepudak bernama Raden Prabu Kencana dan ditetapkan menjadi penggantinya.

Ketika Ratu Sepudak memerintah, tibalah Raja Tengah beserta rombongannya di Sambas. Kedatangan mereka disambut baik dan bahkan banyak rakyat Sambas menjadi pengikutnya dan memeluk Agama Islam.

Setelah Ratu Sepudak wafat, digantikan Raden Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Tidak berapa lama, putri kedua Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu kawin dengan Raden Sulaiman (Putera sulung Raja Tengah). Perkawinan ini dikaruniai seorang putera bernama Raden Boma.

Dalam pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda, diangkatlah pembantu-pembantu administrasi kerajaan. Adik kandungnya bernama Pangeran Mangkurat ditunjuk sebagai Wazir Utama yang bertugas khusus mengurus perbendaharaan raja, terkadang juga mewakili raja.

Baca Juga: Kisah Abu Nawas yang Berhasil Menangkap Pencuri

Raden Sulaiman ditunjuk menjadi Wazir kedua yang khusus mengurus dalam dan luar negeri dan dibantu menteri-menteri dan petinggi lainnya. Rakyat lebih menghargai Raden Sulaiman dari pada Pangeran Mangkurat, hingga menimbulkan rasa iri Pangeran Mangkurat. Orang kepercayaan Raden Sulaiman bernama Kyai Satia Bakti dibunuh pengikut Pangeran Mangkurat.

Hal tersebut dilaporkan kepada raja namun tak ada tindakan apapun. Tekanan terhadap Raden Sulaiman oleh Raden Arya Mangkurat ini kemudian semakin kuat hingga sampai pada mengancam keselamatan Raden Sulaiman beserta keluarganya, sedangkan Ratu Anom Kesumayuda tampaknya tidak mampu berbuat banyak.

Maka Raden Sulaiman kemudian memutuskan untuk hijrah dari pusat Panembahan Sambas dan mencari tempat menetap yang baru. Pada sekitar tahun 1655, berangkatlah Raden Sulaiman beserta istri dan anaknya serta orang-orangnya, yaitu sebagian petinggi dan penduduk Panembahan Sambas yang setia dan telah masuk Islam. Raden Sulaiman dan rombongannya menuju daerah baru bernama Kota Bangun dan menetap disana selama satu tahun. Kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Bandir.

Empat tahun menetap di Kota Bandir, Ratu Anom Kesumayuda datang menemui Raden Sulaiman dan menyatakan bahwa ia dan sebagian besar petinggi dan penduduk Panembahan Sambas di Kota Lama akan berhijrah dari wilayah Sungai Sambas ini dan akan mencari tempat yang baru di wilayah Sungai Selakau dengan ibukota pemerintahan Kota Balai Pinang.

Baca Juga: Kisah Padang 12, Kota Gaib Nan Megah Yang ada di Ketapang Kalbar

Ratu Anom Kesumayuda kemudian menyatakan menyerahkan kekuasaan di wilayah Sungai Sambas ini kepada Raden Sulaiman dan agar melakukan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas ini. Sekitar lima tahun setelah mendapat mandat dari Ratu Anom Kesumayuda, Raden Sulaiman kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah kerajaan baru.

  • Bagikan