LBH Kalbar Gelar Karya Latihan Bantuan Hukum sebagai Wadah Kader Aktivis Hukum Pembela Rakyat

  • Bagikan
LBH
Foto bersama peserta kegiatan Karya Latihan Bantuan Hukum angkatan I dan pertama di kalbar yang diadakan YLBHI-LBH Kalbar, FOTO : Chica

HARIAN BERKAT – YLBHI-LBH Kalimantan Barat (Kalbar) membuka rangkaian kegiatan Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU) angkatan I dan pertama kali di Kalimantan Barat (kalbar).

KALABAHU YLBHI-LBH merupakan wadah penyadaran, pendidikan, penguatan kapasitas dan keterampilan, serta kaderisasi aktivis hukum untuk pembela rakyat. KALABAHU Angkatan I ini mengusung tema, “Mulailah Sekarang : Keadilan Untuk Semua!”.

Rangkaian pelatihan KALABAHU ini dimulai kegiatannya dengan studium generale (kuliah umum) yang menghadirkan Asfinawati yakni Dosen STH Jentera Indonesia, Muhamad Isnur yakni Ketua Umum YLBHI, dan Furbertus Ipur dari ELPAGAR.

Baca Juga : Pembicara Diklatpim Nasional, Edi Kamtono Paparkan Kunci Keberhasilan Pemimpin

Acara dimulai pada pukul 09.30 WIB bertempat di Wisma Susteran KFS Jl. Pancasila, Senin 21 Agustus 2023.

Dalam studium generale ini, para narasumber memberikan gambaran umum tentang kondisi demokrasi, hak asasi manusia, dan perjuangan terhadap masyarakat di nasional dan lokal Kalimantan Barat (Kalbar).

Selain itu, diberikan pula pengantar tentang pentingnya orang muda untuk tidak ragu memulai gerakan sosial, khususnya gerakan bantuan hukum struktural bagi masyarakat.

Pada pembukaannya, Ivan Wagner selaku Kepala LBH Kalbar dan akademisi dari Universitas Panca Bhakti Pontianak menekankan bahwa KALABAHU ini merupakan langkah awal bagi gerakan bantuan hukum di Kalbar.

“Kehadiran LBH Kalbar adalah tambahan bagi sistem dukungan bagi pembelaan masyarakat Kalbar,” ucap Ivan.

Sementara itu, Furbertus Ipur dari Elpagar menyampaikan bahwa gerakan bantuan hukum di Kalbar penting karena Kalbar ini memiliki cerita konflik yang tidak terselesaikan secara tuntas.

“Perdamaian yang ada di Kalbar perlu diperkuat tidak sebatas perdamaian semu, di mana hal tersebut hanya ada di tingkatan elit, sementara di akar rumput, diskriminasi struktural masih berlangsung,” jelas Furbertus Ipur.

  • Bagikan