Kenapa Mobil Bisa Mogok di Lintasan Rel Kereta Api?

  • Bagikan
Kereta Api
Pengguna jalan terlihat tertib di perlintasan kereta api, tidak ada yang melanggar palang pintu perlintasan. Kedisiplinan para pengguna jalan tersebut membantu mengamankan perjalanan kereta api. Foto: istimewa

HARIAN BERKAT – Kasus kecelakaan di lintasan rel kereta api selalu terjadi dari tahun ke tahun. Bagaimana kecelakaan tersebut bisa terjadi? Banyak faktor yang mengakibatkan hal itu. Salah satu penyebabnya, kendaraan bermotor yang mendadak mogok di lintasan rel kereta api.

Kejadian tertabraknya kendaraan bermotor oleh kereta api di pintu perlintasan ini terus terulang, sehingga melahirkan legenda keangkeran pintu perlintasan kereta api.

Banyak orang percaya bahwa, setiap kendaraan yang nekat melintasi pintu perlintasan saat kereta api sudah dekat, pasti mesinnya mati dan tidak bisa dihidupkan lagi. Ada juga yang berpendapat, matinya mesin kendaraan akibat para arwah penunggu rel kereta.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Mogoknya kendaraan bermotor terjadi akibat daya magnetik yang terdapat pada rel kereta api. Daya tarik magnet timbul karena adanya gesekan antara roda kereta dan rel.

Baca Juga: Jejak Sejarah yang Instagenic di Semarang

Medan magnet terbentuk karena efek perubahan energi kimia dari bahan bakar menjadi energi gerak dan energi listrik yang berinteraksi dengan pergerakan roda kereta api. Seperti halnya kita membuat magnet dengan paku yang dililit kabel tembaga, jadi magnet yang terbentuk tergolong elektromagnetik.

Mayoritas roda kereta api terbuat dari baja berjenis ferritic, yang mempunyai medan magnet sangat kuat. Baja ferritic adalah yang terbaik magnetnya dibanding jenis baja lain.

Karena perputaran roda yang sangat cepat dan tinggi itu, maka medan magnet akan maju lebih dahulu. Bisa mencapai 600 meter ke depan.

Cara mengatasinya, di setiap perlintasan kereta api harus dibuatkan ground yang menghubungkan rel dengan tanah setempat. Hal itu akan bisa menghilangkan medan magnet.

Berdasarkan teori medan magnet, kendaraan berbahan bakar bensin masih menggunakan platina dan CDI. Jika terkena medan magnet maka pengapiannya akan terganggu sehingga mesin bisa mati.

Baca Juga: Angka Kecelakaan Lalu Lintas Tinggi, Ini Imbauan Polres Kubu Raya ke Masyarakat

Selain itu kekuatan accunya masih 12 volt, sedangkan kendaraan berbahan bakar solar beda, selain accunya sudah diatas 12 volt juga tidak menggunakan platina. Pengapian pada mesin bensin menggunakan percikan bunga api dari busi yang ditimbulkan oleh listrik bertegangan tinggi yang diproduksi oleh koil.

Medan listrik statis yang ditimbulkan oleh rel karena gesekan roda kereta api dengan rel dapat mempengaruhi/mengganggu produksi (besarnya) bunga api pada busi, sehingga mesin mudah mati.

  • Bagikan