Fakta dan Mitos Tentang Masuk Angin

  • Bagikan
Masuk Angin
Ilustrasi masuk angin. Foto: freepik

HARIAN BERKAT – Siapa yang tidak kenal dengan istilah masuk angin? Banyak dari kita mungkin sering mengalaminya, entah itu perut kembung, pegal-pegal atau hanya merasa tidak enak badan.

Masuk angin merupakan gejala flu yang seringkali dialami, terutama pada pergantian musim. Masuk angin dianggap sebagai penyakit ringan dan biasa. Hal yang sering dilakukan ketika masuk angin antara lain dengan kerokan, pijat, minum obat flu atau minum jamu.

Bahkan, banyak orang sangat percaya pada khasiat kerokan hingga baru akan merasa sembuh jika telah dikerok. Konon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda kalau anda memang masuk angin. Makin pekat warnanya, pertanda makin banyak pula angin yang berdiam di tubuh kita.

Namun, tahukah anda bahwa ternyata masuk angin hanyalah istilah yang dibuat-buat oleh orang Indonesia? Betul sekali, istilah masuk angin tidak ada dalam kamus kedokteran. Dalam Wikipedia sendiri dijelaskan bahwa masuk angin adalah suatu “penyakit” yang disebabkan karena berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam tubuh.

Baca Juga: Ini Sederet Fakta Terkait Keju yang Jarang Diketahui

Masuk Angin diyakini menjadi penyakit yang nyata, namun saat ini belum ada bukti medis untuk mendukung klaim ini. Penyakit ini mirip influenza karena gejala dan penyebabnya hampir sama.

Masuk angin biasanya dianggap sekadar mitos di dunia kedokteran tetapi kenyataannya banyak sekali penderitanya. Hanya orang Indonesia yang menderita masuk angin sedangkan orang asing tidak pernah mengalaminya.

Kalangan ekspatriat di Indonesia tentu bingung dengan istilah masuk angin, penyakit yang disebabkan angin masuk ke tubuh. Mereka baru mengerti setelah mendengar kata catching cold. Istilah masuk angin ini paling tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi catching cold.

Mengapa masuk angin jadi mitos terbesar dalam dunia medis Indonesia? Ternyata, istilah masuk angin hanya ada di dalam pikiran masyarakat kita sendiri. Konsep masuk angin ini hanya ada khususnya ketika kita merasa tidak enak badan.

Baca Juga: Fakta Mencengangkan, Ternyata Ribuan Virus Berada di Lautan

Ada sebuah artikel jurnal yang mengatakan bahwa minimnya literatur mengenai masuk angin karena konsep ini hanya ada dalam pikiran masyarakat Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia mendiagnosa sendiri bahwa dirinya masuk angin.

Ketika masuk angin mereka memilih pengobatan dengan cara “kerokan”. Selain lebih mudah, kerokan dianggap lebih manjur daripada harus mengonsumsi obat-obatan. Kerokan seringkali dihubungkan dengan masuk angin. Ada yang percaya bahwa kerokan bisa “mengeluarkan” angin dari dalam tubuh.

Sebenarnya kerokan hanyalah mengalihkan rasa sakit yang diderita seseorang, tetapi tidak bisa mengobati penyakit itu. Kerokan dapat menyebabkan aliran darah ke kulit lebih lancar, sehingga badan akan merasa lebih segar.

Kerokan prinsipnya sama dengan bekam. Kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi dengan baik atau banyak mengandung CO2 akibat polusi. Sehingga dengan teknik kerokan, dapat mengeluarkan uap-uap polusi dalam darah dan orang akan merasa lebih sehat.

Baca Juga: Lima Mitos Soal Kesehatan Ini Ternyata Keliru

  • Bagikan